31 Januari 2010

SAHABAT YANG PERNAH MENGGANTIKAN NABI SAW



Setiap kali memimpin suatu peperangan, Nabi saw selalu meninggalkan kota Madinah dibawah kepemimpinan orang-orang yang beliau anggap mampu untuk melindungi kaum wanita, anak-anak dan orang tua.
Berikut ini daftar beberapa orang sahabat diantaranya yang pernah mendapat tugas menggantikan beliau :


1. Sa’ad bin Ubadah (ketua suku Khajraj, dari kalangan Anshar) selama 15 hari ketika Nabi saw sedang tidak ada di Madinah.
2. Sa’ad bin Mu’ad (pembesar suku Aus, dari kalangan Anshar).
3. Abu Salamah al Makhzumi, dalam perang Dzul Asyirah (Badr Shugra).
4. Abdullah bin Ummi Maktum dalam perang Badr Kubra, selama 19 hari, dan juga dalam perang Uhud di tahun keempat Hijriah.
5. Abdullah bin Rawahah, dalam perang badar ketiga selama 16 hari.
6. Pada tahun kelima Hijriah, Zaid bin Haritsah bertugas menjaga kota Madinah ketika Nabi saw berperang dalam peperangan Bani Mustalaq di wilayah yang bernama al-Muraisi’i.
7. Abu Rahmi al-Giffari, saat peperangan Bani Quraidhah.
8. Tahun keenam Hijriah, Ibnu Ummi Maktum saat peperangan Bani Lihyan selama 14 hari dan juga saat perang Dzu Gharad selama 5 hari.
9. Tahun ketujuh Hijriah, Nabi saw menugaskan Siba’ bin Ghurfuthah saat perang Khaibar.
10. Tahun kedelapan Hijriah, Nabi saw menugaskan menantunya sendiri Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk, walaupun Nabi saw tidak ikut pergi ke medan perang (perang Tabuk adalah sebelum perang terakhir Nabi saw yaitu ekspedisi Usamah).


Setelah kita telusuri pengganti-pengganti Nabi di kota Madinah, ternyata selama kurang lebih 27 kali beliau meninggalkan kota tersebut walaupun dalam tempo yang sangat singkat (seperti perang Uhud hanya beberapa kilometer dari Madinah), beliau selalu menentukan orang-orang sebagai penggantinya untuk melindungi kota dari serangan-serangan yang tak terduga. Bahkan itu juga dilakukan pada perang Khandak (parit). Padahal perang Khandak terjadi di kota Madinah itu sendiri.


Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tak satu hari pun Nabi saw meninggalkan kota Madinah tanpa menunjuk penggantinya selama beliau tidak ada di tempat. Nabi saw tidak pernah teledor dalam masalah kepemimpinan.


Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan: Setelah selama 23 tahun beliau mendidik dan membina umatnya, apakah mungkin beliau akan meninggalkan umatnya untuk selama-lamanya begitu saja tanpa ada orang yang ditunjuk untuk menggantikan kepemimpinannya?


Alhamdulillah kita semua dikaruniai oleh Allah swt berupa akal sehat, dan dengan menggunakan akal sehat tentu tidak sulit untuk menjawab pertanyaan diatas.


_________________
Sumber :
Ma’alim al-Madrasatain, I hal.281-286, al-Mas’udi, at-Tanbih wa al-Isyraf

[+/-] Selengkapnya...

29 Januari 2010

DIALOG ANTAR MADZHAB (BAG.3)



"Benarkah apa yang dikatakan al-Alawi, bahwa kaum Ahlus Sunnah berkata "Orang yang menghimpun al-Qur'an adalah Utsman?" tanya raja kepada wazir.


"Demikian para ahli tafsir dan sejarah mencatatnya" jawab wazir.2)


"Ketahuilah, kaum Syi'ah percaya bahwa al-Qur'an telah terhimpun pada zaman Nabi Saw sebagaimana yang anda lihat sekarang. Tidak kurang dan tidak lebih satu hurufpun di dalamnya. Adapun Ahlus Sunnah berkata bahwa dalam al-Qur'an terdapat penambahan dan pengurangan serta pendahuluan dan pengakhiran, dan Rasulullah Saw tidak menghimpunnya. Tetapi, Utsmanlah yang telah menghimpunnya setelah ia memimpin pemerintahan dan menjadi raja" kata al-Alawi.
"Dengarlah anda -wahai raja- bahwa orang ini tidak menyebutkan Utsman sebagai khalifah, tetapi sebagai raja" kata al-Abbasi menggunakan kesempatan.


"Ya Utsman memang bukan khalifah" jawab al-Alawi singkat.


"Mengapa demikian?" tanya raja.


"Sebab, kaum Syi'ah percaya akan batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman" jawab al-Alawi.


"Mengapa demikian?" tanya raja lagi.


Sebab Utsman menduduki kursi kepemimpinan dalam pemerintahan berdasarkan permusyawarahan enam orang yang ditentukan Umar, dan ternyata tidak semua orang yang bermusyawarah itu memilih Utsman. Hanya tiga atau dua orang diantara mereka. Dengan demikian, hukum kekhalifahan Utsman bersandar kepada Umar. Kemudian Umar sendiri memimpin pemerintahan berdasarkan penunjukan Abu Bakar. Dengan demikian, hukum kekhalifahan Umar hanya bersandar kepada Abu Bakar seorang. Adapun kekhalifahan Abu Bakar berdasarkan pilihan kelompok kecil sahabat dibawah tajamnya pedang dan kekerasan. Dengan demikian, hukum kekhalifahan Abu Bakar bersandar pada senjata dan kekuatan. Karena itulah, Umar berkata "Sesungguhnya baiat Abu Bakar berlangsung secara tiba-tiba tanpa dipikirkan terlebih dahulu (faltah). Namun Allah swt berkenan memelihara kaum Muslim dari akibat buruknya. Barangsiapa mengulangi perbuatan faltah itu hendaklah ia dibunuh3).


Abu Bakar sendiri berkata "Hentikan aku dari jabatanku ini. Aku orang yang tak layak bagi kalian, padahal Ali berada diantara kalian 4).


Karena itulah, kaum Syi'ah percaya bahwa kekhalifahan mereka itu batil dari dasarnya", papar al-Alawi.


"Benarkah apa yang diucapkan al-Alawi tentang perkataan Abu Bakar dan Umar itu?" tanya raja kepada wazirnya.


"Benar, para ahli sejarah menyebutkan demikian," jawab wazir singkat.


"Lalu, mengapa kita menghormati mereka bertiga?" tanya raja.


"Demi mengikuti pendahulu kita yang saleh," jawab wazir.


"Hai raja, tanyakanlah kepada wazir; kebenarankah yang lebih berhak kita ikuti atau pendahulu kita? Tanya al-Alawi. "Bukankah taqlid kepada pendahulu kita yang berlawanan dengan kebenaran itu sudah disitir dalam firman Allah SWT, "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka". (QS Al-Zukhruf 43:22)


"Jika mereka bertiga bukan khalifah-khalifah Rasulullah Saw, lalu siapa khalifah beliau?" tanya raja kepada al-Alawi.


"Khalifah Rasulullah Saw adalah al-Imam Ali bin Abi Thalib," jawab al-Alawi tenang.


"Mengapa demikian?" tanya raja.


"Sebab, Rasulullah Saw telah menetapkan Ali sebagai khalifahnya kelak selagi beliau masih hidup5). Rasulullah Saw telah menunjuk kepada Ali dalam banyak kesempatan. Sebagian dari padanya adalah disuatu tempat antara Makkah dan Madinah yang bernama Ghadir Khum sepulangnya beliau melaksanakan haji wada. Seraya mengangkat lengan Ali, beliau bersabda "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya juga. Ya Allah, cintailah siapa yang memperwalikannya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. Tolonglah siapa yang menolongnya dan terlantarkanlah siapa yang menelantarkannya".


Kemudian Rasulullah Saw turun dari mimbar dan berkata kepada kaum Muslimin yang saat itu jumlahnya lebih dari seratus dua puluh ribu orang "Sampaikanlah ucapan selamat kepada Ali sehubungan dengan kepemimpinan kaum Mukmin baginya.. Maka merekapun datang satu per satu sambil berkata "Selamat atas anda hai Amirul Mukminin. Kemudian datang pula Abu Bakar dan Umar. Keduanya mengucapkan selamat kepada Ali.


Umar berkata, "Alangkah bahagianya anda, hai Ibnu Abi Thalib. Anda menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap Mukmin dan Mukminat" 6).


Dengan demikian, khalifah Rasulullah Saw secara syar'i adalah Ali bin Abi Thalib" jawab al-Alawi menjelaskan.


______________


2) Para ahli sejarah mengatakan bahwa Utsman mengumpulkan mushaf-mushaf Al-Qur’an lalu membakarnya. Yang menyebutkan demikian adalah Bukhari dalam Shahihnya, bab keutamaan-keutamaan al-Qur'an; Baihaqi dalam Sunnannya 2/41; Kanzul Ummal 1/281; dan Takhawi dalam Muskil al-Atsar 3/4… Duhai, kiranya (ia tidak berbuat demikian); Apakah pembakar al-Qur'an berhak menduduki kursi khilafah?; dosa apakah kiranya yang lebih besar dari pada ini?.


3) Al-Shawa'iqul Muhriqah, karangan Ibnu Hajar, hal 8; al-Milal wa al-Nihal, karangan Syahrastani dll.


4) Al-Qusyaji (ulama Sunni) menyebutkan dalam kitabnya Syahru al-Tajrid; juga dalam kitab lainnya.


5) Sumber-sumber yang menyebutkan Rasulullah Saw telah menetapkan Imam Ali sebagai khalifah beliau banyak sekali, diantaranya; Tarikh Ibnu Jarir 2/62; Kanzul Ummal 6/392; Shahih Turmudzi; Shahih Ibnu Majah; Musnad Ahmad bin Hanbal; Mustadrak al-Shahihain; Tafsir al-Razi; Shawa'iq al-Muhriqah.


6) Sebagian ahli sejarah menyebutkannya. Diantara mereka adalah Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya 4/281; al-Razi dalam Tafsirnya, pasal firman Allah "Ya ayyuhar Rasulu baligh…," al-Khatib al-Bagdadi dalam Tarikh Bagdad 8/290; dan Ibnu Hajar dalam Shawa'iqnya hal 107.



( B E R S A M B U N G )

[+/-] Selengkapnya...

20 Januari 2010

KERINDUAN SANG RASUL


Dini hari di Madinah al Munawarah
Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu
Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemeretak
Kakiku gemetar
Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka
Engkau datang ya Rasul Allah
Kupandangi engkau


Assalamu’alaikum ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Assalamu’alaikum ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Kudengar salam bersahut-sahutan
Kau tersenyum ya Rasulullah
Wajahmu bersinar
Angin sahara berubah menjadi hangat
Cahayamu menyusup seluruh daging dan darahku


Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar engkau bertanya
Adakah air pada kalian?
Kutengok cepat gharibahku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetespun air ya Rasul Allah
Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibahku


Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah air kepadaku
Aku ingin melompat mempersembahkan gharibahku
Tapi ratusan para sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari jemarimu
Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdesak berebut air dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu ya Rasul Allah
Betapa harum air itu ya Nabi Allah
Betapa lezat air itu ya Habib Allah


Qad qamatish shalah
Qad qamatish shalah
Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci melantun dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera pribadimu
Ingin kujatuhkan sebutir pasirku dalam sahara tak terhinggamu


Kudengar engkau bertanya lirih
Ayyul khalqi a’jabu ilaikum imanan?
Siapa makhluk yang imannya paling mengagumkan?
Para malaikat, ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman
Bukankah mereka berada di samping Tuhan?
Para nabi ya Rasul Allah
Bagaimana para nabi tak beriman
Bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan?
Kami, para sahabatmu ya Rasul Allah
Bagaimana kalian tidak beriman
Bukankah aku berada ditengah-tengah kalian?
Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu, siapakah mereka ya Rasul Allah?


Langit Madinah bening
Bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mengagumkan?
Kutahan nafasku
Kuredam detak jantungku
Lalu kudengar sabdamu
Yang paling mengagumkam imannya, mereka yang datang sesudah kalian
Mereka beriman kepadaku, padahal mereka tidak pernah melihatku
Yang paling mengagumkan imannya
Mereka yang datang setelah aku tiada, dan mereka membenarkanku


Bukankah kami ini saudaramu juga ya Rasul Allah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman kepada yang ghaib
Mendirikan shalat
Menginfaqkan sebagian rezeki


Kami terpaku
Langit Madinah bening
Bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau bersabda
Alangkah bahagianya kelak perjumpaanku dengan mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu berlinang
Engkau merindukan mereka ya Rasul Allah?
Kau dambakan pertemuan dengan mereka ya Nabi Allah?
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh


[+/-] Selengkapnya...

 
Mari Mencintai Rasul - © 2007 Template feito por Templates para Você